Cisitu merupakan wilayah pemukiman mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung). Keberadaan mahasiswa ini membuat perekonomian wilayah ini menjadi berdenyut. Banyak usaha didirikan untuk melayani mahasiswa seperti makanan, toko,
laundry, fotokopi, dll. Masing - masing usaha saling bersaing memperebutkan pangsa pasar mahasiswa agar mereka membeli di tempat mereka setiap harinya.
Belakangan, cisitu mulai berkembang menjadi wilayah dengan tingkat rata - rata kesejahteraan mahasiswa menengah hingga atas. Wilayah ini berkembang menjadi wilayah yang menjanjikan bagi masyarakat untuk membangun sebuah entitas bisnis.
Perkembangan ini ternyata berdampak pada dunia usaha dengan menu ayam sebagai bahan pokok. Tingginya minat mahasiswa terhadap makanan ayam olahan membuat banyak pemain yang terjun di dalamnya. Masing - masing pemain melakukan diferensiasi agar pelanggan mampu membedakan merek satu dengan merek lain.
Diantara banyak pemain ini, beberapa tersingkir atau menjadi pemain kecil pada perebutan ini. Pihak yang masih berusaha merebut perhatian konsumen saat ini terhitung hanya terdiri dari 3 pemain utama yaitu Warung Aneka (Ayam Cobek), Ayam Amboe (Ayam tulang lunak), dan BOTRAM. Berikut analisis objektif berdasarkan kondisi yang terjadi saat ini :
Pemimpin pasar hingga saat ini adalah Ayam cobek. Hal ini bisa diketahui melalui estimasi habisnya barang dagangan mereka sebelum jam 8 malam. Diperkirakan porsi dagangan yang mereka jual mencapai 150 porsi lebih dalam tempo semalam. Menariknya, dibanding pesaing yang lain, Ayam cobek menawarkan harga yang lebih mahal (sekitar Rp.500 - Rp. 1,000 lebih dari yang lain). Hal ini membuktikan tingginya tingkat sensitivitas masyarakat cisitu terhadap rasa masakan dan pelayanan. Berdasarkan pengamatan penulis, ayam cobek memang memiliki rasa yang lebih enak dibanding ayam yang lain. Bumbunya lebih melekat, lebih gurih, nikmat, dan khas. Hal ini membuat orang - orang yang telah mencoba makan disana akan ketagihan untuk mencoba lagi. Pelayanannya pun juga baik, ramah, dan yang pasti cepat! Mereka lebih unggul kira - kira 3 -10 menit lebih cepat dibanding pesaingnya (berdasarkan penelitian). Hanya saja ayam cobek ini memiliki ruang usaha yang relatif kecil, sehingga para pelanggan mesti puas untuk berdesak - desakan memesan makanan disini. Oia, kelebihan lain dari ayam cobek adalah sambelnya yang enak.
Berbeda dengan ayam cobek, ayam tulang lunak justru merupakan alternatif yang berlawanan arah dengan ayam cobek. Ayam ini dijual di depan indomaret dengan ruang yang sangat terbatas. Tetapi harus di akui bahwa rasa dari ayam ini benar - benar unik dan nikmat. Rasa dari ayam ini dibandingkan cobek ataupun BOTRAM karena mereka berbeda olahan. Tapi justru hal ini membuat ayam tulang lunak mampu tidak terseret persaingan langsung dengan ayam yang lain. Diperkirakan terjual sekitar 50 porsi ayam tulang lunak setiap harinya.
Pesaing yang terakhir adalah BOTRAM. BOTRAM merupakan merek restoran yang mengandalkan ayam sebagai produknya, merek ini sangat terkenal di kalangan mahasiswa ITB karena rasanya yang enak dan unik. Sebelum di cisitu, BOTRAM telah berdiri di wilayah pujasera gelap nyawang.
Awalnya, BOTRAM melejit ketika berdiri pertama kali di wilayah Cisitu. Setiap harinya mereka mampu menjual 150 - 200 porsi per hari. Namun ketidakmampuan mereka menyajikan pelayanan terbaik membuat pelanggan yang membeli ke mereka semakin menurun. Ditambah lagi dalam hal rasa, BOTRAM tidak mampu memberikan rasa yang nikmat secara konsisten kepada pelanggan mereka. Kini pelanggan mereka diperkirakan berkisar 30 - 60 orang. Internal BOTRAM sendiri sempat dirundung masalah antara masing - masing pengelola yang menyebabkan salah satu pengelolanya keluar. Hal ini semakin memperparah kondisi internal BOTRAM. Karyawan merasa tidak nyaman bekerja, pelanggan merasa pelayanan semakin memburuk, dan suasana hangat serta keakraban yang ditularkan dulu mulai memudar. BOTRAM berubah menjadi ajang keserakan demi ambisi pribadi.
Kini, BOTRAM mencoba melakukan pembenahan. Pembenahan yang pertama mereka lakukan adalah menurunkan harga makanan mereka Rp. 1,000. Hal ini justru membuat citra mereka di mata pelanggan semakin memburuk karena terkesan murahan, dan hal ini pun mengacaukan neraca keuangan mereka. Kondisi ini membuat BOTRAM semakin krisis dan bila tidak dilakukan perubahan yang signifikan, maka akan bangkrut.
Kesimpulan :
- Wilayah cisitu bukanlah tempat yang utama untuk melakukan perang harga (bukan hanya cisitu, tapi juga di seluruh dunia). Cobalah untuk keluar dari jerat perang harga.
- Berikan kualitas yang terbaik kepada pelanggan. Mulai dari rasa, pelayanan, dan harga.
- Jangan hancurkan kepercayaan pelanggan.
- Keunikan dan konsistensi menentukan keberhasilan suatu produk diterima pasar.
- Bila tidak terjadi perubahan dari masing - masing pemain usaha, diperkirakan pemain utama dari usaha makanan ayam akan berubah menjadi 2 yaitu Ayam cobek, dan Ayam tulang lunak.
- Kenali pelanggan anda.