Minggu, 11 Januari 2009

Strategic Planning and Small Business

Many discussions of strategic planning focus on large corporations with many divisions and products. However small business can also benefit from sound strategic planning.Whereas most small ventures start out with extensive business and marketing plans used to attract potential investors, strategic planning often falls by the wayside once the business gets going. Entrepreneurs and presidents of small companies are more likely to spend their time "putting out fires" than planning. But what does a small firm do when it finds that it has taken on too much debt, when its growth is exceeding production capacity, or when it's losing market share to a competitor with a lower prices? Strategic planning can help small business managers to anticipate such situations and determine how to prevent or handle them.
King's Medical Company of Hudson, Ohio, provides an example of how one small company has used very simple strategic-planning tools to chart its course every three years. King's Medical owns and manages magnetic-resonances-imaging (MRI) equipment - million-dollar-plus the company's "planning guru," pointed to strategic planning as the key to this small company's very rapid growth and high profit margins. Patton claimed, "A lot of literature says there are three critical issues to a small company: cash flow, cash flow, cash flow. I agree that issues are critical, but so are three more : planning, planning, planning." King's Medical's planning process,which hinges on an assessment of the company, its place in the market, and its goals, includes the following steps :
  1. Identify the major elements of the business environment in which the organization has operated over the past few years.
  2. Describe the missions of the organization in term of its nature and function for the next two years.
  3. Explain the internal and external forces that will impact the mission of the organization.
  4. Identify basic driving force that will direct the organization in the future
  5. Develop a set of long-term objectives that will identify what the organization will become in the future.
  6. Outline a general plan of action that defines the logical, financial, and personnel factors needed to integrate the long-term objectives in the total organization.
Clearly, strategic planning is crucial to a small company's future. Thom Wellington, President of Wellington Environmental Consulting and Construction, Inc., says that it's important to do strategic planning at a site away from the office. An off-site location offers psychologically neutral ground where employees can be "much more candid," and it takes entrepreneurs away from the scene of the fires they spend so much time stamping out.

Minggu, 21 Desember 2008

Break The Rules


Our lives was surrounded with some rules. Many of that doesn't scientifically and accurately. So, what you have to do is Break The Rules!!


Many people doesn't move because rules, rules, and rules. Rules that defined in this case wasn't government rules or anything like that. This is rules that related to ehics, something that doesn't proves scientifically.
On this case, you have to break!! Don't make your lives static, and bored. Be creative, and make something innovative is your needs. So now, break the rules!!

Selasa, 09 Desember 2008

Pergeseran Era Marketing

Dunia marketing bergerak semakin cepat dan menghasilkan beberapa terobosan baru yang kini telah terjadi. Mungkin kita bisa membuat seri pergeseran paradigma yang terjadi seperti perkembangan teknologi yang terjadi pada dunia komputer.
Pergerakan ini ditandai dengan era pertama yaitu marketing 1.0. Pada masa ini, kegiatan marketing hanyalah sebatas kegiatan menghadirkan barang ke pasar. Tidak lebih. Era ini didominasi oleh produk komoditas. Eksploitas sumber daya alam menjadi pencapaian utama dan masing - masing perusahaan berusaha meraup sumber daya sebanyak - banyaknya dan pelanggan dianggap sebagai entitas yang tidak memiliki kekuatan.
Selanjutnya, dunia marketing bergerak menuju era marketing 2.0. Pada era ini, pelanggan menjadi fokus utama. Nilai tambah adalah hal yang begitu diperhatikan para konglomerasi dan menjadi incaran utama. Pada era ini, interaksi antara pelanggan dan perusahaan begitu diperhatikan dan menjadi tanggung jawab utama perusahaan dalam hal marketing.
Kita bisa menyaksikan perubahan yang begitu signifikan dari masing - masing era. Pada era marketing 1.0, komoditas menjadi produk utama, sementara pada era marketing 2.0, nilai tambah merupakan produk utama. Pelanggan adalah entitas yang wajib diperhatikan pada era marketing 2.0, sementara pada era marketing 1.0 tidak. Dan banyak hal lain yang bisa diketahui setelah dilakukan penelitian.
Kini, masyarakat memasuki era marketing yang baru. Hal ini ditandai dengan kemajuan teknologi komunikasi yang begitu pesat sehingga menandai pemunculan era marketing 3.0. Pada era ini, pelanggan memiliki kekuatan untuk menentukan produk yang mereka pilih. Pelanggan melakukan interaksi dengan perusahaan dan membuat statusnya menjadi sangat penting. Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat juga akan membuat produk digital yang berkaitan dengan komunikasi dan informasi menjadi produk utama setelah nilai tambah melakukan transformasi.
Kini marketer mesti bersiap. Meskipun era marketing 2.0 belum habis, namun era marketing 3.0 perlahan telah mendekat. Kini komunitas digital semakin menjadi incaran perusahaan untuk melakukan pemasaran. Oleh karena itu, sebentar lagi kita wajib mengucapkan "Welcome to Marketing 3.0 Era.."

Sabtu, 18 Oktober 2008

Perang Ayam di Cisitu

Cisitu merupakan wilayah pemukiman mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung). Keberadaan mahasiswa ini membuat perekonomian wilayah ini menjadi berdenyut. Banyak usaha didirikan untuk melayani mahasiswa seperti makanan, toko, laundry, fotokopi, dll. Masing - masing usaha saling bersaing memperebutkan pangsa pasar mahasiswa agar mereka membeli di tempat mereka setiap harinya.
Belakangan, cisitu mulai berkembang menjadi wilayah dengan tingkat rata - rata kesejahteraan mahasiswa menengah hingga atas. Wilayah ini berkembang menjadi wilayah yang menjanjikan bagi masyarakat untuk membangun sebuah entitas bisnis.
Perkembangan ini ternyata berdampak pada dunia usaha dengan menu ayam sebagai bahan pokok. Tingginya minat mahasiswa terhadap makanan ayam olahan membuat banyak pemain yang terjun di dalamnya. Masing - masing pemain melakukan diferensiasi agar pelanggan mampu membedakan merek satu dengan merek lain.
Diantara banyak pemain ini, beberapa tersingkir atau menjadi pemain kecil pada perebutan ini. Pihak yang masih berusaha merebut perhatian konsumen saat ini terhitung hanya terdiri dari 3 pemain utama yaitu Warung Aneka (Ayam Cobek), Ayam Amboe (Ayam tulang lunak), dan BOTRAM. Berikut analisis objektif berdasarkan kondisi yang terjadi saat ini :
Pemimpin pasar hingga saat ini adalah Ayam cobek. Hal ini bisa diketahui melalui estimasi habisnya barang dagangan mereka sebelum jam 8 malam. Diperkirakan porsi dagangan yang mereka jual mencapai 150 porsi lebih dalam tempo semalam. Menariknya, dibanding pesaing yang lain, Ayam cobek menawarkan harga yang lebih mahal (sekitar Rp.500 - Rp. 1,000 lebih dari yang lain). Hal ini membuktikan tingginya tingkat sensitivitas masyarakat cisitu terhadap rasa masakan dan pelayanan. Berdasarkan pengamatan penulis, ayam cobek memang memiliki rasa yang lebih enak dibanding ayam yang lain. Bumbunya lebih melekat, lebih gurih, nikmat, dan khas. Hal ini membuat orang - orang yang telah mencoba makan disana akan ketagihan untuk mencoba lagi. Pelayanannya pun juga baik, ramah, dan yang pasti cepat! Mereka lebih unggul kira - kira 3 -10 menit lebih cepat dibanding pesaingnya (berdasarkan penelitian). Hanya saja ayam cobek ini memiliki ruang usaha yang relatif kecil, sehingga para pelanggan mesti puas untuk berdesak - desakan memesan makanan disini. Oia, kelebihan lain dari ayam cobek adalah sambelnya yang enak.
Berbeda dengan ayam cobek, ayam tulang lunak justru merupakan alternatif yang berlawanan arah dengan ayam cobek. Ayam ini dijual di depan indomaret dengan ruang yang sangat terbatas. Tetapi harus di akui bahwa rasa dari ayam ini benar - benar unik dan nikmat. Rasa dari ayam ini dibandingkan cobek ataupun BOTRAM karena mereka berbeda olahan. Tapi justru hal ini membuat ayam tulang lunak mampu tidak terseret persaingan langsung dengan ayam yang lain. Diperkirakan terjual sekitar 50 porsi ayam tulang lunak setiap harinya.
Pesaing yang terakhir adalah BOTRAM. BOTRAM merupakan merek restoran yang mengandalkan ayam sebagai produknya, merek ini sangat terkenal di kalangan mahasiswa ITB karena rasanya yang enak dan unik. Sebelum di cisitu, BOTRAM telah berdiri di wilayah pujasera gelap nyawang.
Awalnya, BOTRAM melejit ketika berdiri pertama kali di wilayah Cisitu. Setiap harinya mereka mampu menjual 150 - 200 porsi per hari. Namun ketidakmampuan mereka menyajikan pelayanan terbaik membuat pelanggan yang membeli ke mereka semakin menurun. Ditambah lagi dalam hal rasa, BOTRAM tidak mampu memberikan rasa yang nikmat secara konsisten kepada pelanggan mereka. Kini pelanggan mereka diperkirakan berkisar 30 - 60 orang. Internal BOTRAM sendiri sempat dirundung masalah antara masing - masing pengelola yang menyebabkan salah satu pengelolanya keluar. Hal ini semakin memperparah kondisi internal BOTRAM. Karyawan merasa tidak nyaman bekerja, pelanggan merasa pelayanan semakin memburuk, dan suasana hangat serta keakraban yang ditularkan dulu mulai memudar. BOTRAM berubah menjadi ajang keserakan demi ambisi pribadi.
Kini, BOTRAM mencoba melakukan pembenahan. Pembenahan yang pertama mereka lakukan adalah menurunkan harga makanan mereka Rp. 1,000. Hal ini justru membuat citra mereka di mata pelanggan semakin memburuk karena terkesan murahan, dan hal ini pun mengacaukan neraca keuangan mereka. Kondisi ini membuat BOTRAM semakin krisis dan bila tidak dilakukan perubahan yang signifikan, maka akan bangkrut.
Kesimpulan :
  • Wilayah cisitu bukanlah tempat yang utama untuk melakukan perang harga (bukan hanya cisitu, tapi juga di seluruh dunia). Cobalah untuk keluar dari jerat perang harga.
  • Berikan kualitas yang terbaik kepada pelanggan. Mulai dari rasa, pelayanan, dan harga.
  • Jangan hancurkan kepercayaan pelanggan.
  • Keunikan dan konsistensi menentukan keberhasilan suatu produk diterima pasar.
  • Bila tidak terjadi perubahan dari masing - masing pemain usaha, diperkirakan pemain utama dari usaha makanan ayam akan berubah menjadi 2 yaitu Ayam cobek, dan Ayam tulang lunak.
  • Kenali pelanggan anda.

Sabtu, 06 September 2008

Kemandegan Inovasi Surat Kabar

Surat Kabar, atau yang lebih dikenal dengan istilah koran, adalah salah satu media informasi yang tertua di dunia yang hingga kini masih dibutuhkan orang. Bagi masyarakat, koran merupakan sesuatu yang telah melekat. Hampir setiap hari kita bisa saksikan loper koran, pedagang koran eceran, dan pencari koran bekas yang masing - masing dari mereka menggantungkan hidupnya dari koran. Namun perkembangan teknologi yang pesat, membuat koran kini memiliki pesaing lain dalam menjadi media informasi bagi masyarakat. Perkembangan koran kini telah digeser oleh televisi, radio, dan yang termutakhir adalah media online.
Berdasarkan data yang dirilis oleh World Association of Newspaper (WAN) pada tahun 2007, pertumbuhan perolehan iklan untuk koran hanya 0,86%. Sementara media online tumbuh 28,4%, televisi tumbuh 3,9%, dan radio tumbuh 2,7%. Berdasarkan data dari WAN pula, sirkulasi surat kabar di seluruh dunia meningkat 2,57% pada tahun 2007 , dengan penjualan harian mencapai rekor 532 juta eksemplar.
Angka pertumbuhan koran ini tidak sebanding dengan kemajuan yang diperoleh media online. perkembangan perolehan iklan yang pesat, ditambah dengan tingginya angka pertumbuhan website yang bergerak di bidang media online (tumbuh 13,8%) terjadi secara stabil pada pertumbuhan industri media online. Mungkin hal ini bisa menyebabkan beralihnya hampir seluruh media cetak menjadi media online. Hal ini semakin diperkuat dengan meningkatnya pendapatan koran yang diperoleh melalui divisi media onlinenya.
Harus diakui bahwa koran mulai mengalami sisi kemandegan dalam hal inovasi. Sempat terjadi beberapa pembaharuan yang dilakukan oleh media surat kabar seperti :
  1. Ruang lingkup surat kabar yang menjadi lebih sempit, yaitu menjadi pemasaran per daerah.
  2. Munculnya spesialisasi dari masing - masing surat kabar. Terdapat beberapa surat kabar yang berada di bidang olahraga, ada di bidang kriminal, meskipun sebagian besar masih menyajikan berita secara umum.
  3. Waktu terbit yang diperbanyak menjadi 2 kali, yaitu pagi dan sore. Hal ini membuat kemungkinan orang membeli koran menjadi lebih besar.
  4. Bahan kertas yang bervariasi.
  5. Gaya menulis yang khas, dll.
Namun dalam beberapa waktu belakangan, inovasi ini mulai terhenti dan sepertinya belum ada indikasi dari pihak penerbit koran untuk melakukan inovasi. Dikhawatirkan hal ini akan semakin menurunkan minat baca masyarakat terhadap koran dan menjadikan media lain sebagai referensi. Hal ini bisa tergolong berbahaya melihat dampak yang ditimbulkan berikutnya. Semoga pihak penyedia koran mampu mengakomodir permasalahan ini dan menemukan solusi untuk menghentikan kemandegan penjualan koran atau menemukan ide usaha lain yang bisa mengalihkan pemasukan dari koran dan menolong orang - orang yang sebelumnya menggantungkan hidup dari industri koran.

Jumat, 02 Mei 2008

Marketing Mix Concept

If you had a business, let's start to thinking about your market.
Try to identify how far is it, how big is it, where, and how do you get them to be your customer.
You can use 4p's tools to identify your market :
  • Product
  1. Product Variety
  2. Quality
  3. Design
  4. Features
  5. Brand Name
  6. Packaging
  7. Sizes
  8. Services
  9. Warranties
  10. Returns
  • Price
  1. List Price
  2. Discount
  3. Allowances
  4. Payment Period
  5. Credit Term
  • Promotion
  1. Sales Promotion
  2. Advertising
  3. Sales Force
  4. Public Relations
  5. Direct Marketing
  • Place
  1. Channels
  2. Coverage
  3. Assortments
  4. Locations
  5. Inventory
  6. Transport

Selasa, 29 April 2008

Marketer's Frequently Asked Questions

  1. How can we spot and choose the right segment(s) to serve?
  2. How can we differentiate our offering from competitive offerings?
  3. How should we respond to customers who press us for a lower price?
  4. How can we compete against lower-cost, lower-price competitors?
  5. How far can we go in customizing our offering for each customer?
  6. What are the major ways in which we can grow our business?
  7. How can we build the stronger brands?
  8. How can we reduce cost of customer acquisition?
  9. How can we keep our customer loyal for a longer period?
  10. How can we tell which customer are more important?
  11. How can we measure the payback from advertising, sales promotion, and public relation?
  12. How can we improve sales force productivity?
  13. How can we establish multiple channels and yet manage channel conflict?
  14. How can we get the other company departments to be more customer oriented?

Does it happen to you??